Tampilkan postingan dengan label wine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wine. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2010

The International Food Policy Research Institute (IFPRI)

The International Food Policy Research Institute (IFPRI) is an international agricultural research center founded in the early 1970s to improve the understanding of national agricultural and food policies to promote the adoption of innovations in agricultural technology. Additionally, IFPRI was meant to shed more light on the role of agricultural and rural development in the broader development pathway of a country.According to its website, the IFPRI "seeks sustainable solutions for ending hunger and poverty."

The IFPRI is part of a network of international research institutes funded in part by the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), which in turn is funded by governments, private businesses and foundations, and the World Bank.

Scope

IFPRI carries out food policy research and disseminates it through hundreds of publications, bulletins, conferences, and other initiatives. IFPRI was organized as a District of Columbia non-profit, non-stock corporation on March 5, 1975 and its first research bulletin was produced in February 1976. IFPRI has offices in several developing countries, including China, Ethiopia, and India, and has research staff working in many more countries around the world.

Research Areas

IFPRI’s institutional strategy rests on three pillars: research, capacity strengthening, and policy communication.

Research topics have included low crop and animal productivity, and environmental degradation, water management, fragile lands, property rights, collective action, sustainable intensification of agricultural production, the impact of climate change on poor farmers, the problems and opportunities of biotechnology,food security, micronutrient malnutrition, microfinance programs, urban food security, gender and development, and resource allocation within households.

IFPRI also analyzes agricultural market reforms, trade policy, World Trade Organization negotiations in the context of agriculture, institutional effectiveness, crop and income diversification, postharvest activity, and agroindustry.

The institute is involved in measuring the Millennium Development Goals project and supports governments in the formulation and implementation of development strategies.

Further work includes research on agricultural innovation systems and the role of capacity strengthening in agricultural development.

Products and Publications

IFPRI targets its policy and research products to many audiences, including developing-country policymakers, nongovernmental organizations (NGOs), and civil-society organizations, "opinion leaders", donors, advisers, and media.

Publications by IFPRI include books, research reports, but also newsletters, briefs, and fact sheets. It is also involved in the collection of primary data and the compilation and processing of secondary data.

In 1993 IFPRI introduced the 2020 Vision Initiative, which aims at coordinating and supporting a debate among national governments, nongovernmental organizations, the private sector, international development institutions, and other elements of civil society to reach food security for all by 2020.

As of 2006 IFPRI produces the (GHI) yearly measuring the progress and failure of individual countries and regions in the fight against hunger. The GHI is a collaboration of IFPRI, the Welthungerhilfe, and Concern Worldwide.

IFPRI has produced the related Hunger Index for the States of India (ISHI) (2008) and the Sub-National Hunger Index for Ethiopia (2009).

Organizational structure

IFPRI is made up of the Office of the Director General, a Communications Division and the Finance and Administration Division, and 5 research divisions:

  • Development Strategy and Governance

  • Environment and Production Technology

  • Poverty, Health, and Nutrition

  • Knowledge, Capacity, and Innovation

  • Markets, Trade, and Institutions

IFPRI hosts several research networks:

  • The (ASTI)

  • The CGIAR Systemwide Program on Collective Action and Property Rights (CAPRi)

  • Harvest Plus

  • HarvestChoice

Impact

The evaluation of policy-oriented research poses a lot of challenges including the difficulty to quantify the impact of knowledge and ideas in terms of reduced poverty and or increased income or the attribution of a change in these numbers to a specific study or research project.

Despite these challenges, studies find that IFPRI research had spill-over effects for specific country-level research, but also in setting the global policy agenda, for example in the areas biodiversity (influencing the International Treaty on Plant Genetic Resources) and trade (with respect to the Doha Development Round of trade negotiations).

Another example of IFPRI's impact on policy formulation was the 2007–2008 world food price crisis. IFPRI was able to quickly pull together relevant research and its resulting recommendation where included in the United Nations’ Comprehensive Framework for Action on food security.

Criticism

CGIAR and its agencies, including the IFPRI have been criticized for their connections to Western governments and multinational agribusiness, although its research publications have also been cited by critics of agribusiness and Genetically Modified Organisms in agriculture. IFPRI describes itself as "neither an advocate nor an opponent of genetically modified crops."

Source: www.wikipedia.com

See Also: seafood, dim sum, wine




Minggu, 13 Juni 2010

khas masing-masing daerah tentang makanan

Makanan pasti dimakan oleh seluruh manusia di dunia ini. Kebutuhan makanan setiap orang di dunia ini berbeda. Orang yang tinggal di Kutub Utara dan Kutub Selatan, membutuhkan banyak makanan untuk membantu menghangatkan dirinya agar suhu tubuhnya tetap normal. Sedangkan bagi orang yang tinggal di daerah tropis, mereka justru membutuhkan banyak minuman dibandingkan dengan makanan. Selera makanan orang di setiap negara pasti berbeda, sehingga setiap negara mempunyai makanan khas sendiri. Di Amerika Serikat, rata-rata penduduknya memakan pizza, hamburger dan hot dog sebagai makanan pokok mereka. Di Indonesia, rata-rata penduduknya memakan nasi sebagai makanan pokok mereka. Begitupun dengan Eropa dan negara-negara lainnya. Jadi, dapat dipastikan, bahwa setiap negara mempunyai makanan khas masing-masing.
sumber: wikipedia
lihatjuga: minuman, chinese food, japanese food, cake

Kamis, 10 Juni 2010

Minuman Wine dan Profesi Sommelier

Wine sebagai salah satu minuman yang sudah dikenal lama di barat kini mulai populer di Indonesia. Sejumlah restoran, bar maupun hotel berbintang kerap menyajikan wine. Namun, pilihan cita rasa khas suatu wine ataupun padanan makanan apa yang sesuai untuk dinikmati dengan wine tak bisa dilakukan sembarangan.

Keahlian menilai cita rasa maupun merekomendasikan padanan wine hanya dimiliki orang dengan keahlian khusus yang disebut sommelier. Salah satu wine house di Kuningan, Jakarta Selatan baru-baru ini mengadakan test bagi para sommelier. Dalam test ini para sommelier diuji keahliannya oleh para pakar wine dari dalam maupun luar negri.

Para sommelier ini diuji mulai dari teori tentang penyajian wine yang baik hingga test keahlian menentukan jenis dan kwalitas wine hingga menganalisa buatan mana dan tahun berapa wine ini dibuat serta konsep lain seperti Wine Delivery

Seorang sommelier bertugas membeli wine, menentukan wine yang akan dijual, menjaga stok,mengatur Wine Delivery serta memonitor inventory dan memberikan training kepada staff tentang wine hingga merekomendasi kepada tamu wine apa yang cocok dengan makanan yang dipesan tamu. Keahlian ini menjadikan sommelier sebagai profesi bergengsi.

Pengujian sommelier ini baru pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Diharapkan, ke depan akan lebih sering dilakukan agar para sommelier di Indonesia bisa semakin berkualitas dan memenuhi harapan penggemar. Dengan keahlian yang kian tinggi para sommelier Indonesia diharapkan bisa kian menjadikan profesi langka ini sebagai profesi yang membanggakan

Sumber : Metronews

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan: Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia

Selasa, 08 Juni 2010

ba tzang tarara cang ternyata dari cina

Sebelumnya: wine, soto, dan restaurant
Zongzi atau biasa disebut Ba Tzang adalah makanan tradisional Tiongkok yang terbuat dari beras ketan dan dibungkus dengan daun bambu. Zongzi biasa disajikan pada tradisi perayaan Duanwu atau Festival Perahu Naga yang jatuh pada bulan ke lima Imlek untuk memperingati wafatnya Qu Yuan, seorang penyair dari zaman kerajaan Chu.

Menurut legenda, Qu Yuan gagal memperingati kaisar dan para pejabat istana untuk menghentikan perang saudara yang sedang terjadi kala itu. Qu Yuan lalu membuat puisi yang berisikan kesedihan dan kekhawatirannya terhadap peperangan di tanah air mereka. Setelah puisi itu selesai, ia melompat ke sungai Miluo. Orang-orang mencoba menyelamatkannya dengan melempari bungkusan-bungkusan nasi dengan maksud memberi makan para ikan agar mereka tidak memangsa Qu Yuan. Nah, bungkusan-bungkusan nasi itulah yang kemudian dikenal dengan nama Zongzi atau Ba Tzang.

Pada awalnya, kegiatan membuat zongzi adalah kegiatan yang diikuti seluruh keluarga dengan resep yang diajarkan turun temurun. Bahkan seni membungkus zongzi dengan benar juga merupakan hal yang diajarkan turun temurun dalam keluarga, loh. Sayangnya sekarang hal tersebut sudah semakin jarang dilakukan.

sumber: majalah bravo